Selasa, 29 November 2016

Materi gerakan : Tiga Sumber dan Tiga Komponen Marxisme - GMNI FIB USU

TIGA SUMBER DAN TIGA KOMPONEN MARXISME
Oleh V.I. Lenin[1]

D
i segenap penjuru dunia yang beradab, ajaran-ajaran Marx ditentang dan diperangi oleh semua ilmu-pengetahuan borjuis (baik yang resmi maupun yang liberal), karena memandang Marxisme seperti suatu “sekte yang jahat”. Tak bisa diharapkan adanya sikap lain, karena tak ada ilmu sosial yang “netral” dalam suatu masyarakat yang berbasiskan perjuangan kelas. Lewat satu dan lain cara, semua ilmu-pengetahuan resmi dan liberal berpamrih membela perbudakan-upah (wage-slavery). Sedangkan Marxisme tanpa tedeng aling-aling menyatakan perang terhadap perbudakan semacam itu. Mengharapkan sikap netral ilmu-pengetahuan dalam masyarakat perbudakan-upah adalah kenaifan-goblok, sama halnya dengan mengharapkan sikap netral para pemilik pabrik ketika mereka menghadapi persoalan: apakah upah buruh dapat dinaikkan tanpa mengurangi keuntungan kapital?
Tapi bukan sekadar itu. Sejarah filosofi dan sejarah ilmu-ilmu sosial membuktikan dengan sangat jelas bahwa dalam Marxisme tak terdapat “sektarianisme”, dalam makna bahwa doktrinnya tidak sempit, tidak picik dan tidak cupet, sebagaimana doktrin yang dibangun di luar jalur perkembangan peradaban dunia. Sebaliknya, si jenius Marx dengan tepat bisa memberikan jawaban-jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang diajukan oleh pikiran-pikiran termaju umat manusia. Doktrinnya tumbuh sebagai atau terbukti merupakan kelanjutan langsung ajaran-ajaran besar dalam bidang filosofi, ekonomi-politik, dan sosialisme.
Karena kebenarannya lah maka doktrin Marxis begitu kuatnya. Doktrinnya lengkap, tidak kontradiktif (harmonis), bisa membekali umat manusia dengan suatu pandangan dunia yang integral, tak bisa dicampuradukan dengan berbagai macam tahyul, reaksi, atau tak mau mendukung penindasan borjuis. Marxisme merupakan penerus yang syah berbagai pemikiran besar umat manusia abad 19—filsafat klasik Jerman, ekonomi-politik Inggris dan sosialisme Prancis.
Itu lah tiga sumber Marxisme—yang juga merupakan bagian-bagian komponennya—yang akan kita bahas secara ringkas.

I
Filsafat Marxisme adalah materialisme. Sepanjang sejarah modern Eropa—khususnya Prancis pada akhir abad ke-18, tempat di mana perjuangan menentang berbagai macam sampah warisan abad pertengahan begitu gigihnya, perjuangan menentang perhambaan dalam berbagai bentuk kelembagaan dan gagasan-gagasanya—materialisme terbukti merupakan satu-satunya filsafat yang konsisten, benar, bagi setiap cabang ilmu-pengetahuan alam dan sangat menentang berbagai bentuk tahyul, penyimpangan dan semacamnya. Musuh-musuh demokrasi karenanya selalu mencurahkan segala upaya untuk “menyangkal”, mencemari dan memfitnah materialisme, menganjurkan berbagai bentuk filsafat idealisme yang, selalu, dengan berbagai cara, menggunakan agama untuk memerangi materialisme dan membela idealisme.
Marx dan Engels membela filafat materialisme dengan penuh keyakinan dan dengan tekun (berulangkali) menjelaskan tentang kekeliruan (mendalam) yang menyimpang dari basis/landasan materialisme. Pandangan-pandangan mereka sangat gamblang dan dijelaskan secara rinci, panjang lebar, dalam karya Engels, Ludwig Feuerbach dan Anti-Dühring[2], yang, seperti halnya Communist Manifesto, merupakan buku-buku pegangan/panduan bagi setiap buruh berkesadaran kelas.
Tapi Marx tidak sekadar berhenti pada materialisme abad ke-18: ia mengembangkan filsafat yang lebih tinggi kualitasnya. Ia memperkayanya dengan penemuan-penemuan filosofi klasik Jerman, khususnya sistem filsafat Hegel, yang membimbingnya pada materialisme Feuerbach. Penemuan yang paling penting adalah dialektika, yaitu doktrin tentang perkembangan dalam bentuk yang sepenuh-penuhnya, yang sedalam-dalamnya, dan selengkap-lengkapnya, doktrin tentang relativitas pengetahuan manusia, yang membekali kita dengan suatu refleksi/cerminan tentang perkembangan abadi segala sesuatu/materi. Penemuan-penemuan terbaru dalam bidang ilmu-pengetahuan alam—radium, elektron, transmutasi elemen—merupakan bukti nyata (mengagumkan) materialisme dialektisnya Marx, yang berbeda dengan ajaran-ajaran idealisme “baru”—hasil memamah biak yang lama—dan bejat para filosof borjuis.
Marx memperdalam dan mengembangkan filsafat materialisme sepenuh-penuhnya, serta memperluas (memanfaatkan) pengenalan/pengetahuan tentang alam untuk mengenali/mengetahui masyarakat manusia. Materialisme Historisnya merupakan penemuan besar dalam pemikiran ilmiah. Kekacauan dan keserampangan yang dahulu merajalela dalam berbagai pandangan sejarah dan politik digantikan oleh suatu teori ilmiah yang benar-benar integral dan harmonis, yang memperlihatkan bagaimana, sebagai konsekwensi perkembangan tenaga-tenaga produktif, suatu sistem kehidupan sosial digantikan oleh suatu sistem kehidupan sosial lainnya, atau bagaimana suatu sistim yang lebih tinggi bisa muncul—misalnya saja, bagaimana kapitalisme menggantikan feodalisme.
Sebagaimana halnya bahwa pengetahuan manusia itu merupakan refleksi/cerminan dari alam (yakni sesuatu/materi yang berkembang), yang keberadaannya bebas dari kehendak manusia, begitu pula dengan pengetahuan sosial manusia (yakni berbagai pandangan dan doktrinnya—filsafat, agama, politik, dan sebagainya) merupakan refleksi/cerminan sistem ekonomi masyarakat. Ekonomi merupakan fondasi, basis, landasan, bagi berbagai suprastruktur (bangunan atas) lembaga politik. Kita lihat, misalnya, bahwa berbagai bentuk politik negara-negara Eropa modern berpamrih memperkuat dominasi borjuis atas proletariat.
Filsafat Marx merupakan filsafat materialisme terapan yang membekali umat manusia, khususnya kelas buruh, dengan perlengkapan pengetahuan yang ampuh.
II
Begitu menyadari bahwa sistem ekonomi itu merupakan fondasi bagi keberadaan suprastruktur politik, Marx mencurahkan sebagian besar perhatiannya untuk mempelajari sistem ekonomi tersebut. Karya utama Marx, Das Kapital, merupakan hasil studinya yang mendalam tentang sistem ekonomi masyarakat modern: kapitalisme.
Ekonomi politik klasik sebelum Marx berkembang di Inggris, negeri kapitalis yang paling maju saat itu. Adam Smith dan David Ricardo, dengan penyelidikannya tentang sistem ekonomi, meletakkan dasar-dasar teori nilai kerja. Marx melanjutkan karya mereka; ia menguji teori tersebut dan mengembangkannya secara konsisten. Ia bisa menunjukkan bahwa nilai setiap komoditi ditentukan oleh kuantitas waktu tenaga kerja yang secara sosial dibutuhkan untuk memproduksi komoditi tersebut.
Ekonom borjuis melihatnya sebagai hubungan antar-benda (pertukaran antar-komoditi), sedangkan Marx membuktikannya sebagai hubungan antar-manusia. Pertukaran komoditi mencerminkan hubungan antar produsen individual yang terjalin melalui pasar. Uang lebih mendekatkan hubungan tersebut sehingga menjadi semakin erat, tak bisa dipisah-pisahkan, menyatukan seluruh kehidupan ekonomi para produsen individual. Kapital lebih mendorong perkembangan hubungan tersebut: tenaga kerja manusia dianggap sebagai barang dagangan (komoditi). Buruh upahan menjual tenaga kerjanya kepada pemilik tanah, pemilik pabrik dan pemilik alat-alat kerja/produksi. Si buruh menggunakan sebagian waktu kerjanya (yang dibayar berupa upah) untuk membiaya hidupnya beserta keluarganya, sedangkan sebagian waktu kerjanya lainnya (yang tidak dibayar) dipersembahkan untuk menghasilkan nilai-lebih bagi pemilik kapital (kapitalis), nilai lebih yang merupakan sumber keuntungan, sumber kemakmuran kelas kapitalis.
Doktrin tentang nilai-lebih merupakan batu-pijakan teori ekonomi Marx.
Kapital, yang sebenarnya dihasilkan oleh tenaga kerja buruh, justru menghancurkan kehidupan buruh, memporakporandakan pemilik kapital kecil dan menciptakan barisan pengangguran. Dalam bidang industri, keunggulan produksi berskala besar segera tampak. Gejala yang sama juga dapat dilihat di bidang pertanian, keunggulan kapitalis pertanian berkapital besar semakin berkembang—karena penggunaan mesin-mesin pertanian semakin ditingkatkan—sehingga ekonomi petani kecil, yang terjebak oleh kapital-uang, kemudian merosot dan hancur berantakan karena masih menggunakan teknik produksi yang masih terbelakang. Produksi pertanian berskala kecil merosot dalam segala bentuknya, namun kemerosotan produksi itu sendiri merupakan sesuatu yang tak terbantahkan.
Dengan menghancurkan produksi berskala kecil, kapital mendorong peningkatan produktivitas kerja dan menempatkan asosiasi-asosiasi kapitalis besar dalam posisi monopoli. Produksi itu sendiri menjadi semakin sosial/memasyarakat—ratusan ribu, bahkan jutaan buruh, semakin terikat dalam suatu organisme ekonomi reguler—tapi sebagian besar hasil produksi tenaga kerja kolektif tersebut dirampas oleh segelintir kapitalis. Anarki produksi, krisis, persaingan/kekacauan pasar, dan ketidaktentraman sebagian besar penduduk, semakin meningkat.
Dengan meningkatkan ketergantungan buruh pada kapital, sistem kapitalis menciptakan kekuatan yang sedemikian besarnya dalam menyatukan tenaga kerja (sosial/kolektif).
Marx menelusuri perkembangan kapitalisme sejak dari bentuk cikal bakalnya (embrioniknya)—saat ekonomi komoditi masih dalam tarafnya yang paling awal, sejak pertukaran masih dalam tarafnya yang sederhana—hingga bentuk-bentuknya yang paling berkembang—produksi berskala besar.
Tahun demi tahun, pengalaman semua negeri-negeri kapitalis, baik yang sudah maju/lama maupun yang masih berkembang/baru, membuktikan dengan jelas kebenaran doktrin-doktrin Marxian tersebut: semakin meningkatkan jumlah buruh.
Kapitalisme telah menguasai seluruh dunia, tapi kemenangan tersebut hanya lah awal kemenangan kelas buruh atas kapital, yang membelenggu mereka.
III
Ketika feodalisme bisa digulingkan, dan masyarakat kapitalis “merdeka” lahir ke dunia, maka segera lah terbukti bahwa sistim tersebut merupakan suatu sistem penindasan dan penghisapan baru terhadap kelas buruh. Kemudian, berbagai doktrin sosialis serta merta bermunculan, sebagai refleksi dan protes terhadap penindasan tersebut. Sosialisme, pada awalnya, bagaimanapun juga, merupakan sosialisme utopis. Ia mengkritik masyarakat kapitalis, mengutuknya, memaki-makinya, memimpikan keruntuhan kapitalisme, memiliki gagasan/visi adanya tatanan yang lebih baik, dan berusaha menghimbau, mengingatkan, orang-orang kaya bahwa penghisapan itu tidak bermoral.
Namun sosialisme utopis tidak memberikan solusi nyata. Ia tak dapat menjelaskan watak sebenarnya dari perbudakan-upah dalam sistem kapitalisme. Ia tak mampu mengungkapkan, tak mampu membongkar, hukum-hukum perkembangan kapitalis sehingga ia pun tak mampu menunjukkan kekuatan sosial apa yang sanggup mendirikan suatu masyarakat yang baru.
Sementara itu, terjadi berbagai revolusi di Eropa, khususnya di Prancis, seiring dengan kejatuhan feodalisme, perhambaan. Dengan demikian maka semakin lama semakin jelas terbukti bahwa perjuangan kelas merupakan basis dan kekuatan pendorong semua perkembangan masyarakat.
Setiap kemenangan politis atas feodalisme merupakan hasil dari perlawanan serentak dan mengagetkan. Setiap negeri kapitalis berkembang di atas basis yang kurang-lebih demokratis, karena terdapat perjuangan hidup-mati di antara kelas-kelas yang ada dalam masyarakat kapitalistik.
Kejeniusan Marx adalah karena ia lah yang pertama kali bisa menyimpulkan pelajaran dari sejarah dunia dengan tepat, dan ia menerapkannya secara konsisten. Kesimpulan yang dibuatnya menjadi doktrin bagi perjuangan kelas.
Orang-orang selalu menjadi korban tipu muslihat atau sering menipu diri sendiri dalam kehidupan politiknya, dan mereka terus menerus bersikap demikian bila mereka tidak berhasil memahami kepentingan-kepentingan kelas di balik tabir moral, agama, sosial-politik, deklarasi-deklarasi dan janji-janji. Para pemenang proses reformasi dan pembangunan akan selalu terkecoh oleh para pendukung pemerintahan lama, sampai mereka menyadari bahwa setiap lembaga yang lama, sekeji apapun tampaknya, akan tetap dijalankan oleh kekuatan kelas-kelas tertentu yang berkuasa. Hanya ada satu kelompok yang mampu menghantam usaha perlawanan kelas-kelas tersebut, dan bisa ditemukan dalam masyarakat kita, yakni kelompok yang mampu dan harus menggalang kekuatannya untuk menyingkirkan masyarakat lama dan mendirikan masyarakat baru.
Filsafat materialisme yang dipaparkan Marx menunjukkan jalan bagi proletariat agar bebas dari perbudakan spiritual yang, hingga kini, membelenggu setiap kelas yang tertindas. Teori ekonomi yang dijabarkan Marx menjelaskan posisi proletariat sebenarnya dalam sistem kapitalisme. Organisasi-organisasi independen milik proletariat semakin bertambah banyak jumlahnya, dari Amerika hingga Jepang, dari Swedia hingga Afrika Selatan. Proletariat menjadi semakin tercerahkan dan terdidik, sebagai biaya dari perjuangannya sendiri. Mereka membuktikan kesalahan tuduhan-tuduhan masyarakat borjuis; mereka terus memperbaiki strategi perjuangannya, menggalang kekuatannya dan tumbuh tanpa bisa dicegah.

***



[1] Artikel ini ditulis Lenin untuk memperingati 30 tahun kematian Marx dan dipublikasikan dalam Prosveshcheniye (Pencerahan) No. 3, 1913. Prosveshcheniye—adalah terbitan teoritik bulanan kaum Bolshevik, yang diterbitkan secara legal di St.Petersburg mulai bulan Desember, 1911, sampai Juni, 1914. Oplahnya mencapai 5.000 eksemplar. Lenin memimpin penerbitan itu dari luar negeri, awalnya di Paris, kemudian di Cracow dan di Poronin; ia mengedit artikel-artikelnya melalui korespondensi (penuh semangat) dengan para editornya. Pada masa Perang Dunia I majalah tersebut dibredel oleh rejim T’sar. Kemudian terbit lagi pada musim gugur 1917, tapi hanya sekali.
[2] Mengacu pada karya Engels Anti-Dühring: Herr Eugen Dühring’s Revolution in Science. (—ed.)


http://sarinahwiwid.blogspot.co.id/2016/11/materi-gerakan-tiga-sumber-dan-tiga.html
harap cantumkan sumberr^^

PERBANDINGAN HISTORIGRAFI ZAMAN ABAD PERTANGAHAN DENGAN ZAMAN RENAISSANCE



PERBANDINGAN HISTORIGRAFI ZAMAN ABAD PERTANGAHAN DENGAN ZAMAN RENAISSANCE YANG DIBANDINGKAN

1.      KONSEPSIPENDAPAT PARA SEJARAWAN
2.      TOPIK ATAU  TEMA-TEMA PENELITIAN
3.      JIWA ZAMAN
4.      METODE PENELITIAN
5.      BERIKAN CONTOH-CONTOH PARA SEJARAWAN DAN MASING-MASING KARYA HISTORIOGRAFI


PENYELESAIAN
1. KONSEPSI PENDAPAT  PARA SEJARAWAN
A.    ABAD PERTENGAHAN
B.     ABAD RENAISSANCE
2. TOPIK ATAU  TEMA-TEMA PENELITIAN
                        A. ABAD PERTENGAHAN
Abad pertengahan juga disebut sebagai “The Dark Ages” atau “Zaman Kegelapan atau Zaman Kebodohan”. Istilah ini menggambarkan kondisi dan situasi Eropa pada Abad Pertengahan yang mengalami dekadensi intelektual dan ilmu pengetahuan di seluruh bidang. Kegelapan juga dimaknai sebagai tertutupnya intelektual dan rasionalitas manusia oleh dogma agama serta hegemoni gereja. Etnosentris dan logosentris yang berkembang pesat pada masa Yunani Klasik dan Kekaisaran Romawi berubah secara drastis menjadi theosentris sehingga segala sesuatunya harus berlandaskan pada dogma agama dan gereja. Semua yang berasal dari agama dan kitab suci adalah yang paling benar, dan selain itu adalah bid’ah. Penggunaan intelektual dan rasionalitas adalah sesuatu yang menyimpang dari agama dan akan merusak keimanan seseorang. Sains dan ilmu pengetahuan harus dijauhkan dari kehidupan masyarakat. Sebab, sains dan ilmu pengetahuan mendorong orang mempertanyakan segala hal termasuk tentang kebenaran agama. Dengan demikian, kelam dan gelap merupakan sebuah gambaran kehidupan pada Abad Pertengahan karena akal, rasionalitas, dan ilmu pengetahuan dilarang keras untuk berkembang. Sementara itu bagi kalangan agamawan, masa ini merupakan abad yang didambakan karena kehidupan begitu damai dengan berpegang pada dogma agama dan kitab suci sehingga tujuan hidup adalah menuju kedamaian dan surga.
Situasi kebudayaan seperti ini tidak lepas dari pengaruh “jiwa zaman” pada waktu itu sebagai berikut.
1. Theosentrisme, yaitu pandangan hidup yang berpusat pada Tuhan. Maksudnya bahwa kehidupan manusia itu berpusat pada Tuhan, dan Tuhanlah yang mengatur seluruh hidup manusia baik secara individu maupun kelompok. Dalam hal ini Tuhan juga mengatur seluruh sejarah manusia.
2. Providensi, yaitu pandangan hidup yang menganggap bahwa segala sesuatu di dunia dan seisinya ini berjalan menurut rencana Tuhan (God Plan). Sengsara merupakan peringatan terhadap manusia. Faktor Tuhan selalu dikaitkan dengan segala hal, demikian juga dengan sejarah selalu dikembalikan kepada Tuhan.
3. Yenseitigheit, yaitu pandangan hidup yang mementingkan kehidupan di alam baka atau akhirat. Atinya yang terpenting dalam hidup ini adalah untuk mempersiapkan diri demi kehidupan di alam baka.
B. ABAD RENAISSANCE
Renaissans yang secara harfiah berarti kelahiran kembali adalah salah satu periodesasi Eropa setalah periode klasih dan pertengahan. Renaisans muncul sebagai akumulasi dogma-dogma gereja yang membatasi bahkan mengekang pola pikir masyarakat. Dibandingkan dengan jaman abad pertengahan bisa dikatakan tidak ada studi yang sungguh-sungguh tentang sejarah kuno. Walaupun sebenarnya terdapat pengaruh penulisan sejarah Yunani terhadap sejarah abad pertengahan, namun pengaruhnya hanya berpengaruh kepada beberapa penulis saja.
Ciri-ciri historiografi pada abad renaissance :
1. Antroprocentrisme yaitu pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dari alam semesta. Lingkungan dalam konteks ini hanya sebagai nilai instrumental, sebagai objek eksploitasi, dan eksperimen untuk kepentingan manusia.
2. Sekuler yaitu pandangan hidup yang bersifat keduniawian, segala sesuatu diukur atau berorientasi kepada kehidupan di dunia yang bersifat material.
3. Dissegetigheit, yaitu pandangan hidup yang menganggap bahwa dalam kehidupan ini yang terpenting adalah justru dunia yang fana ini. semboyannya adalah “carpidiem” yang berarti petiklah hari ini.
3. JIWA ZAMAN
A. ABAD PERTENGAHAN
Demikian halnya dengan sejarah historiografi Eropa, periode Pertengahan merupakan suatu masa setelah masa Yunani dan Romawi. Kondisi masa Pertengahan yang penuh dogma ikut mewarnai corak penulisan sejarah. Penulisan sejarah pada masa ini juga memiliki tema dan ciri khusus sebagaimana jiwa zamannya, yakni theosentris, berpusat pada gereja, dan feodalistis.
a. Theosentris atau Teologis
Theosentris merupakan ciri utama dan pertama dari historiografi Abad Pertengahan. Pemusatan pada ketuhanan dan kehidupan beragama mendapat bobot yang besar, atau bahkan bisa dikatakan seluruh kehidupan harus berpusat padanya. Penulisan sejarah pun akan berkaitan dengan masalah-masalah ketuhanan dan keagamaan sebagaimana tulisan Augustinus dalam karyanya yang berjudul Confenssion dan The City of God. Keduanya merupakan fakta dari historiografi Abad Pertengahan. Penulisan sejarah yang dilakukan tidak akan keluar dari lingkaran theosentris dan teologis.
b. Pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan berada di biara-biara.
Hal ini merupakan suatu keniscayaan sejarah pada masa Pertengahan. Gereja mendapat otoritas secara penuh atas keberlangsungan hidup manusia di dunia. Pada masa ini, biara merupakan tempat para biarawan dan para “bapak” mengabdikan hidupnya untuk agama. Dalam kompleks tersebut terdapat gereja, perpustakaan, dan sekolah-sekolah (paroki) serta pusat kajian kebudayaan. Dengan demikian, praktis orang-orang yang berpendidikan dan memiliki ilmu pengetahuan adalah para biarawan dan biarawati. Penulisan sejarah pun dilakukan oleh mereka dengan objek kajian masalah ketuhanan, keagamaan, dan gereja. Persentase penulisan sejarah dengan obyek tersebut begitu besar secara kuantitaf karena para sejarawan masa ini adalah para ahli agama dan orang-orang dari gereja.
c. Feodalistis
Feodalistis merupakan fenomena sejarah yang muncul dan berkembang pada zaman Pertengahan. Sistem kepemilikan tanah dan sewa tanah oleh para tuan tanah merupakan kegiatan sosial ekonomi yang berkembang. Penulisan sejarah pun juga terkonsentrasi pada fenomena sosial tersebut. Bagaimana kehidupan sosial, khususnya stratifikasi masyarakat masa feodalisme, dan respon agama dalam menanggapi fenomena tersebut adalah masalah-masalah yang menjadi obyek penulisan sejarah yang penting. Bentuk penulisan sejarah pada era ini terutama memasuki abad ke-9 sudah mengedepankan bentuk naratif. Bentuk penulisan yang naratif merupakan salah satu ciri yang membedakan hasil penulisan pada masa Pertengahan dengan masa sebelumnya yakni annals dan cronicles.
B. ZAMAN RENAISSANCE


4. METODE PENELITIAN

5. BERIKAN CONTOH-CONTOH PARA SEJARAWAN DAN MASING-MASING KARYA HISTORIOGRAFI
A. ABAD PERTENGAHAN
a. Augustinus
Augustinus merupakan seorang penulis yang sangat produktif, terutama dalam hal teologi. Beberapa karya tulisnya yang kontroversial berkaitan dengan persoalan masa itu yakni yang berkaitan dengan kaum Pelagian, masih tetap berpengaruh hingga zaman modern. Di antara karyanya yang sangat berpengaruh dan terkenal sampai sekarang ini,
adalah:

1. Confessiones, pengakuan (semacam riwayat hidup);
2. De Trinitate , tentang Allah Tri Tunggal;
3. De Natura et Gratia, tentang kodrat dan rahmat;
4. De Civitate Dei, tentang negeri Allah (sebuah buku mengenai masyarakat Kristiani yang ideal dan hubungan antara negara dan agama, besar pengaruhnya pada masa Pertengahan);
5. De Quantitate Animae, tentang mutu jiwa.15
6. Confessiones, Buku yang berjudul Confessiones karya Augustinus memiliki karakteristik sejarah. Buku yang terdiri dari 13 jilid ini terdiri dari dua bagian besar pembahasan yakni riwayat hidup Augustinus dan pembahasan masalah keagamaan. Sembilan jilid di antaranya menjelaskan tentang riwayat hidup Augustinus dari kecil hingga memeluk agama Kristen pada usia 32 tahun sekaligus tentang ayahnya yang “kafir” dan ibunya yang taat beragama. Sementara yang empat jilid lebih menjelaskan tentang perjalanan dan pencarian yang dianggapnya sebagai sebuah kebenaran (masalah keagamaan). Menurut Yusouf Ibrahim, Confessiones mengisahkan pengalaman-pengalaman yang telah dilalui penulisnya pada tahap tertentu dalam kehidupannya. Harapannya buku itu menjadi petunjuk menuju ke jalan yang benar. Kebenaran yang dimaksud adalah agama Kristen yang kemudian dianutnya dengan teguh.
BEBERAPA PREMISI/ASUMSI DALAM “CITY OF GOD”
1. Sejarah punya tujuan (seperti manusia hidup).
2. Sejarah bergerak lurus menuju titik terakhir yaitu hari kebangkitan.
3. Titik akhir sejarah itu baik dinamakan progres (kemajuan), kebajikan.
4. Ada kekuatan eksternal yang menggerakan sejarah.
5. Manusia dapat membedakan beberapa aspek, mementingkan pemahakam kelemahan nalar.
6. Manusia harus memahami wahyu kitab suci.
7. Wahyu adalah agen aktif dalam sejarah
b. Esebius
Esebius dari Caesaria menulis buku  sejarah gereja “church history” yang menceritakan tentang tumbuhnya gereja secara alami, berbicara tentang generasi yang persuafif dan keyakinan jenis sejarah yang radical (mengabaikan tradisi klasik). Esebius mendiskripsikan kehidupan religius dan mengajukan pertanyaan tentang eksisitensi manusia.

SEJARAH LAHIRNYA PERHIMPUNAN INDONESIA (PI)



SEJARAH LAHIRNYA PERHIMPUNAN INDONESIA (PI)

DISUSUN
OLEH
KELOMPOK : 7
NAMA                                              NIM
IKA AZURA MARGOLANG           140706013
WIWID ANGGRAINI                      140706050
SRI ANGGRIANI                                      140706051
NAJMA RAFIKA SURI                             140706055
M.IKHSAN PAJRI                           140706060



DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2016
BAB I
Latar Belakang Masalah
Perhimpunan Indonesia merupakan sebuah organisasi pergerakan Naional yang berpaham Nasionalisme. Berjuang untuk bangsa dengan beraktivitas di luar tanah air. Perhimpunan Indonesia biasa disingkat Perhimpunan Indoneisa merupakan perhimpunan politik pelajar Indonesia di negeri Belanda yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Perhimpunan yang pada mulanya bernama Indosische Vereniging merupakan organisasi sosial yang bertujuan memperhatikan kepentingan bersama penduduk Hindia Beleanda di negeri Belanda. Berdirinya PI berawal dari didirikannya Indosche Vereniging tahun 1908 di Belanda Lama kelamaan muncul kepentingan politik di kalangan mereka dan akhirnya corak perhimpunan ini berubah menjadi corak politik.
Seusai perang dunia I tahun 1918, pelajar dan mahasiswa Indonesia di Belanda makin banyak. Perasaan nasionalisme dan antikolonialisme serta anti imperialisme di kalangan mereka semakin menonjol, sehingga dalam Indische Vereniging muncul dua kelompok. Yang pertama kelompok moderat, dipimpin oleh seorang Indonesia yang terkenal sebagai penyair dalam bahasa Belanda, Noto Suroto. Mereka kemudian mendirikan organisasi bernama Nederlands-Indonesische-Verbond dengan tujuan tetap memelihara hubungan Hindia Belanda dengan Belanda. Kelompok kedua yang bersifat progresif, mempunyai tujuan politik ke arah Indonesia Merdeka. Lebih-lebih sejak adanya seruan Presiden Amerika Woddrow Wilson tentang hak kemerdekaan bangsa-bangsa dan bangkitnya seluruh bangsa terjajah di Asia dan Afrika menuntut kemerdekaan, kesadaran tentang hak bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri dan merdeka dari penjajahan semakin kuat.
Dengan demikian, Perhimpunan Indonesia semakin tegas bergerak di bidang politik. Asas perhimpunan Indonesia adalah“mengusahakan suatu pemerintahan untuk Indonesia, yang bertanggung jawab hanya kepada rakyat Indonesia, dan hal ini hanya dapat dicapai oleh bangsa Indonesia, tidak pertolongan apapun”. Untuk mempercepat tercapainya tujuan ini, segala jenis perpecahan harus dihindarkan.
Meskipun pada hari itu Volksraad telah dibentuk, pemerintah Hindia Belanda tidak bertanggung jawab kepada Volksraad, melainkan kepada pemerintah Nederland. Dengan Demikian, jelas bahwa Perhimpunan Indonesia menuntut Volksraad diganti dengan parlemen yang sebenarnya, sehingga pemerintah bertanggung jawab kepada parlemen Indonesia.
Sejak tahun 1923, Perhimpunan Indonesia aktif berjuang untuk tujuan yang diinginkan, dan sejak tahun ini pula, perhimpunan Indonesia keluar dari Indonesische Verbond van Stunderenden, suatu perkumpulan gabungan organisasi mahasiswa Indonesia, Belanda, Indo Belanda dan peranakan Cina yang berorientasi pada Indonesia dalam satu kerja sama, karena dianggap tidak perlu lagi. Inilah latar belakang masalah didirikannya Perhimpunan Indonesia untuk merebut kembali hak kemerdekaan Indonesia dari bangsa bangsa asing.

























BAB II
Pembahasan
Perhimpunan indonesia (PI) berdiri pada tahun 1908 oleh orang-orang Indonesia yang berada di negeri Belanda, diantaranya R.P Sosrokartono, R. Hoesein Djajadinigrat. R.N Notosuroto, Notodiningrat, Sutan Kasayangan Saripada, Sumitro Kolopaking, dan Apituley. Pada mulanya perhimpunan indonesia bernama Indische Vereenigng . Kegitannya pada mulanya hanya terbatas pada penyelenggaraan pertemuan sosial dengan para anggota ditambah dengan sesekali mengadakan pertemuan dengan orang-orang belanda yang banyak memerhatikan masalah indonesia,antara lain Mr. Abenendanon, Mr. Van Deventer, dan Dr. Snouck Hurgronye. Organisasi ini bertujuan untuk memajukan kepentingan-kepentingan bersama dari orang-orang yang berasal dari indonesia, maksudnya orang-orang pribumi dan non-pribumi bukan Eropa, di negeri Belanda dan hubungan dengan orang Indonesia.
Organisasi ini bersifat moderat (selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem) sebagai perkumpulan sosial mahasiswa Indonesia di Belanda untuk memperbincangkan masalah dan persoalan tanah air. Pada awalnya Perhimpunan Indonesia merupakan organisasi sosial.Memasuki tahun 1913, dengan dibuangnya tokoh Indische Partij ke Belanda maka dibuatlah pokok pemikiran pergerakan yaitu Hindia untuk Hindia yang menjadi nafas baru. Perkumpulan mahasiswa Indonesia. Iwa Kusumasumantri sebagai ketua menyatakan 3 azaz pokok Indische Vereeniging yaitu:
1. Indonesia menentukan nasibnya sendiri
2. Kemampuan dan kekuatan sendiri
3. Persatuan dalam menghadapi Belanda
            Pada tahun 1922 berdatangan tokoh-tokoh, seperti Mohammad Hatta, Sunario, Ahmad Subarjo, dan Ali Sastroamijoyo. Kedatangan mereka ini sangat mempengaruhi gerakan organisasi ini. Nama organisasi ini berubah menjadi Indonesische Vereeniging. Kegiatannya sudah bersifat politik. Semenjak tahun 1923 PI aktif berjuang bahkan memolopori dari jauh perjuangan kemerdekaan untuk seluruh rakyat indonesia dengan berjiwa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang murni dan kompak. Berdasarkan perubahan ini, Perhimpunan Indonesia keluar dari Indonesich Verbond Van Studeerenden (suatu perkumpulan yang bertujuan menggabungkan organisasi-organisasi mahasiswa indonesia, Belanda,dan peranakan Cina yang berorientasi ke indonesia dalam suatu kerja sama pada tahun 1923 karna dianggap tidak perlu lagi. Nama majalahnya juga berubah dari Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka pada tahun 1924. Dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya yang ke-15, tahun 1924 mereka menerbitkan buku peringatan yang berjudul Gedenkboek. Buku ini berisi 13 artikel yang ditulis oleh A.A Maramis, Ahmad Soebsrdjo, Sukiman Wiryosanjoyo, Mohammad Hatta, Muhammad Natsir, Sulaiman, R. Ng. Purbacaraka, Darmawan Mangunkusumo, dan Iwa Kusumasumantri. Susunan buku itu adalah sebagai berikit :
Artikel pertama berjudul "Tinjauan ke Belakang" yang menguraikan pembentukan dan perkembangan Perhimpunan Indonesia, disusul oleh karangn berjudul "Mananjak", kemudian karangan tentang "Jalan Baru", barikutnya tentang arah zaman".
Didalam tiga abad penjajahan akhirnaya menimbulkan sikap yang mestinya ditunjukkan kepada penajajah yang menunjukkan sikap perlawanan, tidak mau berkompromi meliputi karangan dalam majalah Indonesia. Mereka terbitan dalam tahun-tahun berikut dan dalam pernyataan dasar-dasar Perhimpunan Indonesia.
Masalah-masalah yang diinventasikan saat itu antara lain :
Hanyalah Indonesia yang bersatu serta mengenyampingkan perbedaan-perbedaan yang mampu mematahakan kekuatan penguasa yang menjajah. Tujuan bersama, ialah pembebasan Indonesia berdasarkan pada kesadaran dan bertumpu pada kekuatan aksi masa nasionalistis, dalam setiap masalah tata negara kolonial yang mendominasai ialah perlawanan kepentingan antara penjajah. Keikutsertaan semua lapisan masyarakat dalam memeperjuangkan pembebasan yang mendominasi dalam perjuangan itu ialah berlawannya kepentingan yang menjajah dan yang dijajah.
Kecendrungan dalam perjuangan ialah bagaimana menyembunyikan dan menutupi siasat kaum penjajah. Poitik Kolonnial itu merusak dan mendemoralisasi kehidupan psiki dan fisis, maka perlu di usahakan normalisasi relasi-relasi dalam kehidupan masyarakat kolonial itu.Majalah ini berisi ide atau pemikiran Perhimpunan Indonesia untuk kemerdekaan. Oleh karena itu, majalah ini di Indonesia beredar secara rahasia. Berdasarkan pernayatan itu muncul pernyatan dasar-dasar PI yang tertera dalam Hindia Poetra edisi Maret 1923 berbunyi sebagai berikut :
1. Masa depan bangsa indonesia hanya semata-mata yang dalam pembentukan struktur pemerintah sendiri dapat di pertanggungjawabkan oleh bangsa indonesia
2. Untuk mencapai itu setiap orang menurut kemampuan serta menurut kekuatan serta kecakapannya di usahakan tanpa bantuan pihak manapun
3. untuk mencapai tujuan bersama itu semua unsur atau lapisan rakya perlu kerja sama serat-ertanay .
Perlu dicatat disini bahwa dalam Dekalrasi itu sangat ditentukan pokok-pokok antara lain: ide kesatuan atau ideologi kesatuan dan prinsip demokrasi sebagai tindak lanjut proklamasi dasar-dasar PI disusun rencana kerja sebagai berikut :
1. Melancarkan propaganda secara intensi dasar-dasar tersebut, terutama Indonesia
2. Menarik perhaian dunia internasional terhadap permasalahan Indonesia, dan
3. Meningktakan perhatian para anggota terhadap persoalan Internasional. Dalam pada itu para anggota PI yang menyatakan diri mereka selaku penggerak revulisioner-nasionalistis telah merinci garis-garis arahan dan demikian mendapat simpati dari kawan-kawan setanah air serta membangkitkan semnagat revulisioner-nasionalistis di Indoneisa.
Meningkatnya aktivitas kearah politik terutama sejak datangnya dua orang Mahasiswa ke negeri Belanda, yaitu A. Subardjo tahun 1919 dan Mohammad Hatta tahun 1921, dan keduanaya kemudian pernah mengetahuai PI. Dengan bertambah banyaknya mahasiswa Indonesia yang belajar di negri Belanda berubah pula kekuatan PI.
Pada tahun 1925, nama Indonesische Vereeniging diubah lagi menjadi Perhimpunan Indonesia. Tujuan Perhimpunan Indonesia adalah Indonesia Merdeka. Sifat gerakannya tidak bekerja sama (nonkooperatif) atau antipati terhadap pemerintah kolonial Belanda. Organisasi ini bermaksud menanamkan kesadaran bahwa bangsa Indonesai harus percaya pada kemampuannya sendiri dalam berbagai bidang, mampu memperbaiki nasib bangsa sendiri tanpa menggantungkan diri kepada bangsa asing, dan mampu menghadapi pemerintah kolonial Belanda dengan cara bersatu dan bekerja sama antara bangsa Indonesia untuk mencapai Indonesia merdeka. Tokoh-tokoh Perhimpunan Indonesia dengan giat mengisi Indonesia Merdeka dengan artikel tentang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Dalam perjuangannya, Perhimpunan Indonesia melakukan juga kerja sama dengan tokoh-tokoh bangsa-bangsa lain di Eropa dan Asia. Kerja sama juga dilakukam dengan organisasi-organisasi internasional, seperti Liga penentang Imperialisme dan Penindasan Kolonialisme, serta Liga Demokrasi Internasional untuk Perdamaian. Perhimpunan Indoneisa memang berusaha supaya masalah Indonesia mendapatkan perhatian dalam dunia Internasional.Hubungan dengan beberapa organisasi Internasional diadakan seperti liga penentang imperialisme dan penindasan kolonial dan komintern.dalam kongres ke 6 liga demogratie Internasional untuk pendamaian pada bulan agustus 1926 di Paris (Prancis) Moh.Hatta dengan tegas menyatakan tuntutan untuk kemerdekaan indonesia. Kecuriagaan ini makin bertambah ketika Mohammad Hatta, atas nama Perhimpunan Indonesia, menandatangani suatu perjanjian (rahasia) dengan Semaun pada bulan Desember 1926 yang isinya menyatakan bahwa PKI mengakui kepemimpinan Perhimpunan Indonesia dan bersedia bekerja sama menghidupkan perjuangan kebangsaan rakyat Indonesia di bawah kepemimpinan Perhimpunan Indonesia.
            Gerakan Perhimpunan Indonesia yang bersifat radikal ini menimbulkan kekhawatiran pada pemerintah kolonial Belanda. Karna radikal itu adalah suatu paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan secara keras, tokoh-tokoh perhimpunan Indonesia, Guanawan Mangunkusumo, Moh. Hatta, Iwa Kusumasumantri, Sastro Mulyono, dan Sartono melakukan tindakan yang radikal. Bisa dikatakan Perhimpunan Indonesia merupakan manifesto dari pergerakan nasional indonesia dikarenakan Karena status anggota Perhumpunan Indonesia sebagai mahasiswa membawa posisi mereka tanpa ikatan sosial politik tertentu dan tidak memiliki kepentingan untuk mempertahankan kedudukan, sehingga mereka tidak khawatir dalam bertindak terang-terangan melawan pemerintah Bealnda Organisasi ini juga membuat lambang untuk Indonesia diantaranya merah putih sebagai bendera. Semenjak berakhirnya Perang Dunia I perasaan anti kolonialis dan imperialis di kalangan pimpinan dan anggota Perhimpunan Indonesia semakin menonjol, apalagi setelah ada seruan dari Presiden AS, Woodrow Wilson mengenai hak untuk menetukan nasib bangsa sendiri.
            Tahun 1925 Perhimpunan Indonesia semakin tegas memasuki kancah politik, yang juga didorong juga oleh kebangkitan nasionalisme di Asia-Afrika. Disamping itu, mengusahakan suatu pemerintahan untuk Indonesia, yang bertanggung jawab kepada rakyat Indonesia semata-mata, dan hal yang demikian itu hanya bias dicapai oleh rakyat Indonesia sendiri tanpa mengharapkan bantuan siapapun dan pada prinsipnya menghindarkan perpecahan demi tercapainya tujuan. Dengan pemikiran yang demikian tegas, wajarlah apabila Perhimpunan Indonesia menjadi satu ancaman terhadap kredibilitas pemerintah Belanda dalam menjalankan kolonialismenya di Indonesia.
Dalam kongres ke-1 Liga Penetang Imperialisme dan Penindasan Kolonial di Brussels pada bulan Februari 1927 yang dihadiri antara lain oleh wakil pergerakan negeri-negeri terjajah, Perhimpunan Indonesia atas nama PPPKI di Indonesia juga mengirimkan wakilnya, yang terdiri atas Mohammad Hatta, Nazir Pamoncak, Gatot dan Ahmad Subarjo. Kongres antara lain mengambil keputusan: (1) Menyatakan simpati sebesar-besarnya kepada pergerakan kemerdekaan Indonesia dan akan menyokong usaha tersebut dengan segala daya; (2) Menuntut dengan keras kepada pemerintah Belanda agar memberikan kebebasan bekeja untuk pergerakan rakyat Indonesia dan menghapus hukuman pembuangan dan hukuman mati.
Dalam kongres keduanya yang diadakan di Brussels pada 1927, Perhimpunan Indonesia juga ikut, dan keputusan yang diambil mengenai masalah Indonesia sebenarnya merupakan ulangan keputusan kongres pada bulan Februari sebelumnya. Akan tetapi setelah liga didominasi oleh golongan komunis, Perhimpunan Indonesia segera keluar dari liga.
Propaganda selalu dilancarkan oleh Perhimpunan Indonesia. Makin lama makin keras. Karena itu, pemerintah Belanda mengambil tindakan keras pula terhadap Perhimpunan Indonesia.
            Pada bulan Juli 1927dilancarkan penggeledahan di beberapa rumah kediaman pengurus Perhimpunan Indonesia kemudian dituduh menghasut umum untuk mengadakan pemberontakan terhadap pemerintah, dan pada tanggal 10 Juni 1927 empat anggota pimpinannya yakni Mohammad Hatta, Abdulmajid Djojoadiningrat, Nazir Pamoncak, dan Ali Sastromidjojo, ditangkap dan ditahan sampai tanggal 8 Maret 1928. Namun dalam pengadilan tanggal 22 Maret 1928 di Den Haag, mereka dibebaskan dari tuduhan karena tidak terbukti bersalah.
Di masa krisis dunia tahun 1930, Perhimpunan Indonesia mengalami kemunduran dan makin lama makin tidak terdengar lagi. Hal ini disebabkan terutama oleh banyaknya tokoh Perhimpunan Indonesia yang kembali ke Indonesia. Sejak tahun 1930 juga, majalah Indonesia merdekadilarang masuk ke Indonesia.
Di Lingkungan pergerakan Indonesia sendiri, pengaruh Perhimpunan Indonesia cukup besar antara lain terhadap berbagai pembentukan stidieclub, seperti Indonesische Studieclub di Surabaya, Algmene Studieclub di Bandung, studieclub-studieclub di Yogyakarta, Jakarta, Solo, dan sebagainya. Selain itu, Perhimpuan Indonesia secara langsung mengilhami berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927, Jong Indonesische pada tahun 1927, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) pada tahun 1926. Pergerakan Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda ini berpengaruh kuat terhadap pergerakan nasional di tanah air, bahkan mendorong lahirnya beberapa organisasi.

BAB III
Keesimpulan
Perhimpunan indonesia (PI) berdiri pada tahun 1908 oleh orang-orang Indonesia yang berada di negeri Belanda, diantaranya R.P Sosrokartono, R. Hoesein Djajadinigrat. R.N Notosuroto, Notodiningrat, Sutan Kasayangan Saripada, Sumitro Kolopaking, dan Apituley. Pada mulanya perhimpunan indonesia bernama Indische Vereenigng .
Organisasi ini bersifat moderat (selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem) sebagai perkumpulan sosial mahasiswa Indonesia di Belanda untuk memperbincangkan masalah dan persoalan tanah air. Pada awalnya Perhimpunan Indonesia merupakan organisasi sosial.Memasuki tahun 1913, dengan dibuangnya tokoh Indische Partij ke Belanda maka dibuatlah pokok pemikiran pergerakan yaitu Hindia untuk Hindia yang menjadi nafas baru. Perkumpulan mahasiswa Indonesia. Iwa Kusumasumantri sebagai ketua menyatakan 3 azaz pokok Indische Vereeniging yaitu:
1. Indonesia menentukan nasibnya sendiri
2. Kemampuan dan kekuatan sendiri
3. Persatuan dalam menghadapi Belanda
Gerakan Perhimpunan Indonesia yang bersifat radikal ini menimbulkan kekhawatiran pada pemerintah kolonial Belanda. Karna radikal itu adalah suatu paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan secara keras, tokoh-tokoh perhimpunan Indonesia, Guanawan Mangunkusumo, Moh. Hatta, Iwa Kusumasumantri, Sastro Mulyono, dan Sartono melakukan tindakan yang radikal. Bisa dikatakan Perhimpunan Indonesia merupakan manifesto dari pergerakan nasional indonesia dikarenakan Karena status anggota Perhumpunan Indonesia sebagai mahasiswa membawa posisi mereka tanpa ikatan sosial politik tertentu dan tidak memiliki kepentingan untuk mempertahankan kedudukan, sehingga mereka tidak khawatir dalam bertindak terang-terangan melawan pemerintah Bealnda Organisasi ini juga membuat lambang untuk Indonesia diantaranya merah putih sebagai bendera. Semenjak berakhirnya Perang Dunia I perasaan anti kolonialis dan imperialis di kalangan pimpinan dan anggota Perhimpunan Indonesia semakin menonjol, apalagi setelah ada seruan dari Presiden AS, Woodrow Wilson mengenai hak untuk menetukan nasib bangsa sendiri.


Daftar Pustaka

Junaedi, M. 2007. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta : PT Mitra Aksara Panaitan.

Kartodirjo, S. 1990. Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jakarta : PT Gramedia Jakarta.

Kartodirjo, S. 2005. Sejak Indische Sampai Indonesia. Jakarta : Buku Kompas.

KAPITA SELEKTA SEJARAH INDONESIA : Korespondensi Cina Di Hindia Belanda 1865-1949

Korespondensi Cina Di Hindia Belanda, 1865-1949 SIEM TJONG HAN, M.D . Artikel ini merupakan upaya untuk menggambarkan beberapa aspek ...